Dinamika globalisasi di abad ke-21 membawa perubahan masif yang tidak hanya menyentuh sektor ekonomi, tetapi juga menguji ketahanan ideologi sebuah bangsa. Di tengah arus informasi yang tanpa batas dan dominasi budaya global, Indonesia dihadapkan pada tantangan untuk tetap menjaga identitas nasionalnya. Dalam konteks ini, pemikiran politik para pendiri bangsa seperti Soekarno, Hatta, dan Sjahrir kembali menemukan relevansinya sebagai kompas strategis. Nilai-nilai yang mereka rumuskan puluhan tahun lalu terbukti melampaui zaman dan mampu menjadi fondasi bagi bangsa dalam menavigasi kompleksitas dunia modern yang penuh ketidakpastian.
Internasionalisme dan Kemanusiaan dalam Arus Global
Bung Karno pernah menekankan bahwa internasionalisme tidak dapat tumbuh subur jika tidak berakar pada nasionalisme, begitu pula sebaliknya. Pemikiran ini sangat relevan dalam menjawab tantangan globalisasi saat ini, di mana negara-negara dituntut untuk bekerja sama tanpa kehilangan kedaulatannya. Pemikiran politik ini mengajarkan bahwa Indonesia harus berperan aktif dalam panggung dunia bukan sebagai pengikut, melainkan sebagai entitas yang membawa misi kemanusiaan dan perdamaian abadi. Dengan memegang teguh prinsip ini, bangsa Indonesia dapat menyerap sisi positif kemajuan teknologi dan ekonomi global tanpa harus mengorbankan nilai-nilai luhur dan kepribadian bangsa yang menjadi jati diri di mata dunia.
Kedaulatan Ekonomi dan Keadilan Sosial Modern
Mohammad Hatta memberikan penekanan kuat pada kedaulatan ekonomi melalui konsep koperasi dan ekonomi kerakyatan. Di abad ke-21, di mana kapitalisme global sering kali menciptakan ketimpangan yang lebar, pemikiran Hatta memberikan jalan keluar mengenai pentingnya penguatan ekonomi dari level akar rumput. Relevansi pemikiran ini terlihat pada upaya pemerintah dalam mendorong kemandirian energi dan pangan serta perlindungan terhadap industri dalam negeri di tengah persaingan pasar bebas. Kedaulatan ekonomi bukan berarti menutup diri dari investasi asing, melainkan memastikan bahwa setiap kerja sama internasional harus memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia, sesuai dengan mandat keadilan sosial.
Demokrasi Deliberatif sebagai Penangkis Polarisasi
Tantangan globalisasi juga membawa risiko polarisasi politik yang tajam akibat algoritma media sosial dan persebaran disinformasi. Para pendiri bangsa telah mewariskan konsep demokrasi musyawarah mufakat yang mengedepankan dialog daripada sekadar pemungutan suara mayoritas. Pemikiran politik ini menjadi sangat krusial saat ini untuk menjaga integrasi nasional dari ancaman perpecahan. Dengan mengedepankan kearifan lokal dalam berdemokrasi, masyarakat dapat lebih bijak dalam menyaring pengaruh luar yang berpotensi memecah belah. Kembali ke khitah pemikiran para pendiri bangsa berarti memperkuat literasi politik dan etika berbangsa, sehingga Indonesia tetap kokoh berdiri sebagai bangsa yang bersatu, berdaulat, adil, dan makmur di tengah guncangan peradaban digital.












