Bayang-Bayang Budaya: Mengapa Anak Rentan Kekerasan di Rumah?
Kekerasan anak di rumah adalah masalah pelik yang akarnya seringkali tersembunyi dalam pola pikir dan kebiasaan yang diwarisi secara sosial budaya. Bukan hanya soal individu, tetapi juga cerminan nilai-nilai yang tanpa sadar melanggengkan praktik berbahaya. Mari kita telaah beberapa faktor kunci:
-
Dominasi Patriarki & Peran Gender Kaku:
Dalam banyak masyarakat, dominasi patriarki masih kuat. Pria sering dianggap memiliki otoritas mutlak dalam keluarga, termasuk dalam mendisiplinkan anak, bahkan dengan kekerasan fisik, yang dianggap sebagai hak. Wanita, yang sering diposisikan lebih pasif, mungkin merasa sulit atau tidak berdaya untuk membela anak atau menyuarakan ketidaksetujuan. -
Normalisasi Kekerasan dalam Pola Asuh:
Anggapan bahwa "kekerasan fisik adalah bagian dari mendidik" masih mendarah daging. Hukuman fisik ringan seperti cubitan, pukulan, atau jeweran sering dianggap wajar dan perlu untuk "membentuk karakter" atau "memberi pelajaran." Padahal, ini adalah pintu gerbang kekerasan yang lebih serius dan merusak mental anak. -
Minimnya Edukasi dan Kesadaran:
Banyak orang tua tidak menyadari dampak jangka panjang kekerasan terhadap psikologis, emosional, dan perkembangan kognitif anak. Kurangnya pengetahuan tentang pola asuh positif, hak-hak anak, dan alternatif mendisiplin yang efektif membuat mereka terjebak pada cara lama yang merusak. -
Budaya Diam dan Stigma:
Ada kecenderungan masyarakat untuk "tidak ikut campur" urusan rumah tangga orang lain. Kekerasan sering dianggap sebagai "aib keluarga" yang harus ditutupi, bukan masalah sosial yang perlu ditangani. Ini menciptakan lingkungan di mana korban sulit mencari bantuan dan pelaku merasa aman dari pengawasan. -
Keyakinan Tradisional tentang Anak:
Dalam beberapa konteks, anak masih dianggap sebagai "milik" orang tua, bukan individu dengan hak-haknya sendiri. Pandangan ini dapat mengurangi empati dan membenarkan perlakuan yang sewenang-wenang atas nama "hak orang tua."
Kesimpulan:
Kekerasan anak bukanlah takdir, melainkan produk dari pola pikir dan sistem sosial yang bisa diubah. Memutus rantai kekerasan membutuhkan keberanian untuk meninjau kembali nilai-nilai lama, meningkatkan kesadaran, serta membangun lingkungan yang lebih peduli dan melindungi anak. Ini adalah tanggung jawab kita bersama.


