Berita  

Indonesia Serukan Aksi Nyata di COP30, Dorong Kolaborasi Global Selamatkan Hutan Tropis

Belém, Brasil — Dalam Konferensi Perubahan Iklim PBB ke-30 (COP30) yang digelar di Belém, Brasil, Indonesia kembali menjadi sorotan dunia dengan seruannya untuk memperkuat aksi nyata dalam menjaga hutan tropis dan mempercepat transisi menuju pembangunan berkelanjutan. Delegasi Indonesia menegaskan pentingnya kolaborasi global lintas negara untuk menyelamatkan ekosistem hutan tropis yang menjadi paru-paru dunia.

Hutan Tropis Sebagai Penopang Iklim Global

Indonesia, bersama Brasil dan Republik Demokratik Kongo, dikenal sebagai tiga negara dengan hutan tropis terbesar di dunia. Dalam forum COP30, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia menekankan bahwa hutan tropis bukan hanya aset nasional, melainkan aset global yang harus dijaga bersama. Hutan-hutan ini menyimpan sekitar 80% keanekaragaman hayati dunia dan berperan penting dalam menyerap karbon, sehingga dapat menekan laju pemanasan global.

“Tanpa perlindungan terhadap hutan tropis, upaya dunia untuk mencapai target net zero emission 2050 akan sulit terwujud,” tegas perwakilan Indonesia dalam pidatonya di hadapan para pemimpin dunia. Pemerintah Indonesia juga menyoroti keberhasilan nasional dalam menurunkan angka deforestasi secara signifikan selama lima tahun terakhir, berkat kebijakan moratorium izin pembukaan hutan primer dan lahan gambut.

Dorongan Kolaborasi Internasional dan Pendanaan Hijau

Dalam sesi diskusi tingkat tinggi, Indonesia mengajak negara maju untuk memperkuat dukungan pendanaan bagi program konservasi dan restorasi hutan tropis. Salah satu fokus utama adalah memperluas inisiatif Tropical Forest Alliance dan Just Energy Transition Partnership (JETP) dengan menambahkan elemen perlindungan ekosistem alami.

Indonesia menilai bahwa transisi energi hijau tidak dapat dipisahkan dari pelestarian alam. “Perubahan iklim bukan hanya tentang emisi karbon, tetapi juga tentang ketahanan ekosistem dan keadilan lingkungan,” ujar salah satu anggota delegasi. Pemerintah menegaskan perlunya pembiayaan yang adil, transparan, dan berkelanjutan, agar negara berkembang dapat berpartisipasi aktif dalam upaya global tersebut.

Selain itu, Indonesia juga mendorong terbentuknya mekanisme insentif berbasis hasil, seperti carbon credit dan payment for ecosystem services, yang memungkinkan negara pemilik hutan menerima kompensasi atas upaya konservasi mereka.

Kepemimpinan Indonesia dalam Diplomasi Hijau

Kehadiran Indonesia di COP30 mencerminkan peran strategis negara ini dalam diplomasi hijau global. Melalui berbagai inisiatif seperti FOLU Net Sink 2030 dan Indonesia Environment Fund (IEF), pemerintah menargetkan sektor kehutanan dan penggunaan lahan dapat menjadi penyerap karbon bersih pada 2030.

Langkah tersebut mendapat apresiasi dari berbagai negara dan lembaga internasional. Indonesia dinilai berhasil menunjukkan bahwa perlindungan lingkungan bisa berjalan seiring dengan pertumbuhan ekonomi. Keberhasilan dalam menekan laju deforestasi dan mengembangkan industri berbasis karbon rendah menjadi bukti nyata komitmen Indonesia terhadap keberlanjutan.

Seruan untuk Aksi Nyata di COP30

Dalam penutupan pidatonya, delegasi Indonesia menyerukan agar COP30 tidak berhenti pada pernyataan politik semata, tetapi menghasilkan aksi konkret di lapangan. Dunia membutuhkan kepemimpinan kolektif untuk mengatasi krisis iklim dan melindungi keanekaragaman hayati yang tersisa.

“Planet kita tidak butuh lebih banyak janji—ia butuh tindakan nyata,” tegas perwakilan Indonesia di forum tersebut. Seruan ini disambut positif oleh berbagai negara yang juga berkomitmen memperkuat kerja sama konservasi lintas benua.

Dengan semangat kolaborasi dan tanggung jawab bersama, Indonesia berharap hasil COP30 akan menjadi tonggak penting dalam upaya global menyelamatkan hutan tropis dan menciptakan masa depan yang lebih hijau bagi generasi mendatang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *